Headlines News :
Home » » Kunjungan Silaturahmi HTI Kabupaten Garut dengan Muspika Kec.Cigedug

Kunjungan Silaturahmi HTI Kabupaten Garut dengan Muspika Kec.Cigedug

Written By jabar bersyariah on Sunday, March 2, 2014 | 8:59 PM



Alhamdulillah dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antara pengurus HTI Kab. Garut dengan Muspika Kec Cigedug, pada hari Jumat tanggal 28 Februari 2014 telah diadakan audensi dengan para pimpinan di wilayah Kecamatan Cigedug. Pertemuan berlangsung di Aula Kecamatan, dalam pertemuan tersebut  tim delegasi HTI dipimpin langsung oleh Ketua DPD II Kab. Garut Ust. Dendi Rachdina yang didampingi oleh jajaran pengurus diantaranya Ust. Dindin sholahudin (Sekretaris DPD II), Ust. Deni Setiawan, Ust. Baban Ridwan,serta Ust. Aam Abdullah selaku Ketua DPC HTI Kec. Cegedug sekaligus Pimp. Ponpes Miftahul Huda al Juariyah dari pihak tuan rumah dihadiri oleh seluruh muspika kecamatan diantaranya Bapak Camat Odik Sodikin, Koramil, Polsek, Ketua MUI, Kepala KUA, Ketua Forum Pesantren, Pimp. Pesantren diantaranya KH. Abdullah, KH. Syihabuddin, 5 Kepala Desa yang ada di Kecamatan Cigedug,  serta staf Kecamatan.  Silaturahmi dalam bentuk diskusi tersebut berjalan dengan penuh keramahan, kehangatan, dan rasa ukhuwah.
Pertemuan tersebut diawali dengan paparan secara sekilas terkait Hizbut Tahrir dan aktivitas dakwah HTI ditengah – tengah masyarakat oleh Ust. Dendi dan Ust. Dindin, dalam paparan tersebut dijelaskan bahwa Hizbut Tahrir merupakan harakah dakwah yang didirikan pada tahun 1953 oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani , Hizbut Tahrir berjuang karena landasan seruan Allah SWT dalam surat Al Imran 104 yang bertugas untuk melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar dalam rangkan mewujudkan kehidupan Islam dalam seluruh sendi kehidupan. Tugas HTI di masyarakat adalah berdakwah dalam membina dan mengkader seluruh lapisan masyarakat baik dari tingkat masyarakat biasa hingga level pimpinan negara agar senantiasa ada dalam bingkai syariat Islam. Kemudian dari paparan singkat tersebut berkembang menjadi forum diskusi dari beberapa tokoh yang hadir untuk menanyakan beberapa ide yang diusung oleh HTI dan isu –isu miring terkait dengan keberadaan HTI.  Beberapa ide yang dipertanyakan diantaranya tekait dengan pandangan Hizbut Tahrir terhadap kedudukan Pemilu, Demokrasi, keberadaan NKRI karena menurut mereka NKRI adalah harga mati, bahkan ada yang mempertanyakan Aqidah dan tauhid Hizbut Tahrir. Terkait dengan Pemilu, dijelaskan yang menjadi persoalan bukanlah mekanisme pemilu tersebut tetapi dari aspek akad, Pemilu merupakan suatu akad wakalah yang harus diperhatikan dari aspek perkara yang diwakilkan sehingga tidak cukup mengatakan boleh tidak boleh adanya Pemilu dengan sebatas adanya pihak yang mewakili dan pihak yang diwakilkan tetapi harus memperhatikan perkara yang diwakilkan, jika perkara yang diwalikan boleh menurut syariat maka akad tersebut boleh/mubah tetapi jika tidak maka akad tersebut batil menurut hukum syara. Begitu pula dengan pertanyaan tentang Demokrasi, dijelaskan secara lugas bahwa HT bukan sekedar mempersoalkan  masalah mekanisme dan prosedural mengambil pendapat tetapi lebih dari itu yang menjadi persoalan adalah Demokrasi sebagai sistem kehidupan yang memberikan hak dan wewenang kepada rakyat untuk mengatur kehidupan dengan aturan yang dibuat oleh rakyat yaitu memberikan hak kedaulatan ditangan rakyat, inilah keharaman demokrasi yaitu mengambil hak Allah Swt yang Maha mengatur selain itu tidak ada satu dalil pun dalam ayat al-Quran maupun hadist Rasulullah yang menunjukan adanya demokrasi bahkan yang ada bekaitan dangan Khilafah dan khalifah. Terkait dengan pertanyaan menjaga keutuhan NKRI, Ust. Dendi menjelaskan jika yang dimaksud dengan menjaga NKRI adalah menjaga persatuan ummat, kesatuan wilayah dan kesehjateraan masyarakat Indonesia justru keberadaan Hizbut Tahrir dalam rangka mewujudkan negeri Indonesia menjadi Negara Baldatun Thoyibatun wa Rabbun Ghafur  dengan cara tunduk patuh terhadap syariatNya, Hizbut Tahrir dengan tegas mengharamkan aktivitas yang dapat memecah belah ummat, dan kesatuan negeri Islam, HTI pun dengan tegas menolak kapitalisme yang telah merusak dan menghabiskan sumber daya alam di Indonesia. Ust. Aam diakhir diskusi menjelaskan bahwa aqidah dan tauhid HTI sama seperti dari kalangan ahlul sunnah wal jamaah yang lainnya, seperti halnya dengan ormas Islam yang ada di Indonesai seperti NU, PERSIS, Muhamadiyah, HTI berbeda bukan dari aspek masalah ushul sehingga HTI bukanlah kelompok atau aliran sesat seperti halnya syiah dan ahmadiyah yang telah berbeda dari masalah ushul sehingga mereka dikatakan sebagai kelompk/aliran sesat.
Di akhir pertemuan tersebut, Bapak Camat Odik Sodikin mengucapkan terima kasih atas kunjungan pengurus HTI dan berharap agar bisa bersinergi dalam menjaga dan membina masayarakat secara khusus di wilayah Kecamatan Cigedug, dan untuk menjaga komitmen tersebut Muspika Kecamatan Cigedug membuat berita acara yang ditandangani oleh pengurus HTI terkait dua point yang disepakati bersama yaitu :
1.  Pengurus HTI dan Muspika bersama – sama menjaga dan membina masyarakat Kecamatan Cigedug dengan syiar Islam.
2. Pengurus HTI dan Muspika bersama –sama menjaga kondusifitas keamanan di masyarakat.
(Abu Hifdzi/Humas HTI – Garut)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jabar Bersyariah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger