Headlines News :

Menurut Anda, Jawa Barat akan sejahtera dengan?

Promosi

Showing posts with label Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Muslimah. Show all posts

Female HATI ITB dan BKLDK : Saatnya Perempuan Berperan Dalam Era Milenium

Inilah Seruan Intelektual Perempuan Menyambut Generasi Era Milenium
Bandung-- Unit Kajian Harmoni Amal Titian Ilmu (HATI) ITB bekerjasama dengan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) dan ITB menggelar Seminar Intelektual Perempuan pada hari Ahad (20/04/14) di Gedung Aula Barat ITB, Bandung.

Menjadi Perempuan Inspiratif Arsitek Generasi Terbaik


Foto BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus) Bandung Raya.oleh: Siti Nafiidah S.P., M.Ag. (Penulis buku Revisi Politik Perempuan)

Saat ini, gambaran perempuan inspiratif didominasi dengan pendapat kafir barat || bagi mereka, perempuan bekerja dan berkontribusi pada ekonomilah yang menjadi gambaran perempuan inspiratif

Allah telah mengabarkan bahwa akan senantiasa ada musuh (bagi kaum muslim) yakni syetan || mereka dari golongan jin dan manusia yang hembuskan perkataan-perkataan indah untuk menipu orang-orang yang beriman (Al-An'am:112)

Bahkan Rasul pun telah mengingatkan, bahwa kaum muslim akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal meskipun sampai lubang biawak

dan ternyata benar, amat banyak perempuan masa kini yang termakan rayuan mereka dengan segala janji manisnya || mereka tereksploitasi bagaikan mesin-mesin pencetak uang yang tak ada harganya || Hingga akhirnya, terlahirlah generasi tanpa bentuk dan masyarakat makin terjajah tak berdaya

Fika M. Komara : Perempuan di Era Kosmopolitan


oleh: Fika Komara (Aktivis Muslimah Media Center Asia Tenggara")

Kini manusia hidup di era kosmopolitan. Kos.mo.po.li.tan dalam kamus besar bahasa indonesia bermakna: a 1 mempunyai wawasan dan pengetahuan yg luas; 2 terjadi dr orang-orang atau unsur-unsur yg berasal dr pelbagai bagian dunia (http://kbbi.web.id/kosmopolitan)

Pada Masa Islam, terdapat hubungan interaktif dalam kegiatan ekonomi perdagangan antara sultan, ulama dan saudagar yang harmonis melahirkan kaum saudagar-santri yang bergaya hidup egaliter, dinamis dan cosmopolitan terutama di wilayah pesisir utara pulau Jawa. (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid Asia Tenggara, Ichtiar Baru Van Hoeve)

Female HATI ITB dan BKLDK Mengadakan Seminar Intelektual Perempuan 2014

seminar politik perempuan 2014
seminar politik perempuan 2014
Seminar Intelektual Perempuan
Paradigma Perempuan Inspiratif dalam Pembangunan Generasi Era Milenium
vision without action is a daydream,
action without vision is a nightmare.

Ibu-Ibu Padati Gasibu di Hari 22 Desember Dengan Kongres Ibu Nusantara



Foto: Erna Mardiana/detikcom
Bandung - Bertepatan dengan Hari Ibu, lebih dari 500 perempuan mengikuti Kongres Ibu Nusantara yang digagas Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Jabar di pelataran Lapangan Gasibu depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Minggu (22/12/2013).

"Ini bukan memperingati Hari Ibu, kami hanya memanfaatkan momentumnya saja. Saat ini kan lagi ramai soal hari ibu," ujar Ketua DPD MHTI Jabar Siti Nafidah di sela-sela kongres.

Menurutnya saat ini di tengah kapitalisme, peran ibu tereduksi dan dimandulkan. Seorang perempuan kini dituntut mandiri secara ekonomi.

"Produk kapitalisme adalah kemiskinan. Ini membuat perempuan dilema antara peran utama mereka sebagai pencetak generasi bangsa dan harus memikirkan ekonomi keluarga sehingga membuat mereka terpaksa bekerja," ujarnya.

Ia menyatakan HTI bukan anti wanita bekerja. "Namun yang kami khawatirkan adalah pola pikir saat ini, di mana perempuan merasa wajib untuk bekerja. Ini yang bahaya, tanpa sadar mereka melepas peran utama keibuan mereka," ujarnya.

Siti juga mengkritik tema Hari Ibu 2013 yaitu kesetaraan perempuan dan laki-laki untuk membangun karakter bangsa. Menurutnya, itu artinya ibu diberdayakan di bidang ekonomi dengan cara bekerja sama seperti laki-laki.

"Mudah-mudahan dengan acara ini ibu bisa merefleksi lagi soal peran ibu sebagai pencetak generasi bangsa. Berkualitas tidaknya generasi nanti tergantung ibu saat ini," ujarnya

Menurutnya, aksi ini juga dilakukan serentak di berbagai kota lainnya.

Ratusan ibu duduk di tangga Gasibu mendengarkan talkshow dan orasi. Sementara di depan gerbang Gedung Sate berjejer puluhan perempuan berbaju hitam dengan mengenakan topeng wajah perempuan. Beberapa poster dari kertas juga mereka bawa, di antaranya bertuliskan "Kapitalisme merusak peran ibu", "Puncak derita buruh perempuan".

Massa MHTI pun sesekali berteriak "Ibu pejuang Islam bangkit tegakkan khilafah Islam". (detik)

Kongres Ibu Nusantara MHTI Jawa Barat Berlangsung Sukses


Foto: #KIN | #KongresIbuNusantaraJawaBarat

Sambutan oleh Ustdzh. Rikeu Indah M. selaku Ketua Panitia dan juga Sekretaris Umum Muslimah HTI Jawa Barat. Dalam kesempatan ini Ustdzh. Rikeu Indah M. menyampaikan keprihatinan kepada para ibu yang senantiasa diliputi kesulitan hidup, ketakutan dan kekhawatiran akan nasib diri dan masa depan anak-anaknya. Sulitnya mendapatkan kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan papan). Begitu juga dengan kesehatan dan keamanan. Berbagai pertanyaan terkait ketidakadilan antara yang kaya dan yang miskin senantiasa berkecamuk. Padahal, Allah SWT telah menjawab pertanyaan itu dalam QS. al-Hasyr ayat 7. Ayat ini menjelaskan bahwa harta itu tidak boleh beredar di kalangan orang kaya saja. Dan Allah memberi kewenangan kepada Rasulullah saw. sebagai Amirul Mu’minin untuk mengatur dan mengelola distribusi harta agar tersebar merata, sehingga setiap individu bisa menggunakan harta itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan saat ini umat Islam membutuhkan pengatur dan pemutus pemerataan harta di antara umat, yaitu seorang khalifah. Khalifah akan mengatur kebutuhan rakyatnya dengan syariat Islam, bukan dengan sistem demokrasi seperti saat ini yang menyebabkan kesenjangan dan ketidak adilan bagi rakyatnya, khususnya para ibu. Sistem politik demokrasi meniscayakan kebebasan kepemilikan, dan sistem ekonomi kapitalis menjadikan para pemimpin negara menjual kekayaan milik rakyat kepada pengusaha, bahkan pengusaha asing dan kafir sekalipun. Akibatnya, rakyat hanya mendapatkan sedikit kekayaan, bahkan tidak mendapatkan apa-apa. Belum lagi negara yang memeras rakyatnya dengan memungut pajak dari rakyatnya sendiri. Kesempitan hidup begitu terasa. Jika sudah begini, siapa saja akan bekerja apa saja untuk bertahan hidup, termasuk para ibu. Para ibu terpaksa bekerja dan mengorbankan peran utamanya sebagai seorang ibu. Hukum kapitalisme ini telah mewajibkan perempuan bekerja. Perempuan telah beralih fungsi menjadi mesin ekonomi dan dibebani tanggung jawab untuk menyelamatkan kondisi ekonomi keluarga. Akibatnya, fungsi ibu sebagai ‘madrasah ula’ bagi putra-putrinya tidak berjalan. Belum lagi opini menyesatkan bahwa agar perempuan para ibu terpenuhi hak-haknya maka ia harus sejajar dengan laki-laki. Kesejajaran ini justru melegalkan tindakan abai laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki tidak harus menafkahi dan bertanggung jawab atas perempuan. Dampak lanjutannya, fungsi kepemimpinan suami terkikis. Rumah tangga menjadi tidak harmoni, bahkan tidak jarang berujung kepada perceraian. Anak-anak menjadi korban. Tidak sedikit anak-anak korban perceraian terjerumus ke dalam masalah narkoba, seks bebas, dll sebagai pelampiasan masalahnya.
Solusi atas semua permasalahan yang menimpa para ibu adalah dengan menerapkan sistem Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah. Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan sangat menghormati para ibu dengan tidak mewajibkannya mencari nafkah, sehingga ia bisa fokus menunaikan kewajiban utamanya mengurus keluarga dan mendidik anak-anak.Ia tidak perlu dibebani dengan peran ganda. Ia bisa menikmati kebahagiaan hidup sesuai dengan fitrah penciptaannya. Khalifah akan menjalankan sistem ekonomi yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup para ibu. Begitu pentingnya keberadaan khilafah yang akan menyelamatkan Indonesia dari keburukan sistem sekular buatan manusia, sudah sepantasnya setiap muslim tidak menolak khilafah, bahkan akan berlomba-lomba dalam usaha menegakkannya. Oleh karena itu, Kongres Ibu Nusantara (KIN) mengajak para ibu untuk memahami Islam dengan utuh dan menyeru untuk turut dalam perjuangan penegakan kembali khilafah sebagai solusi tuntas persoalan para ibu.
Acara dibuka dengan Sambutan oleh Ustdzh. Rikeu Indah M, selaku Ketua Panitia dan juga Sekretaris Umum Muslimah HTI Jawa Barat. Dalam kesempatan ini Ustdzh. Rikeu Indah M. menyampaikan keprihatinan kepada para ibu yang senantiasa diliputi kesulitan hidup, ketakutan dan kekhawatiran akan nasib diri dan masa depan anak-anaknya. Sulitnya mendapatkan kebutuhan pokok (pangan, sandang, dan papan). Begitu juga dengan kesehatan dan keamanan. 



Berbagai pertanyaan terkait ketidakadilan antara yang kaya dan yang miskin senantiasa berkecamuk. Padahal, Allah SWT telah menjawab pertanyaan itu dalam QS. al-Hasyr ayat 7. Ayat ini menjelaskan bahwa harta itu tidak boleh beredar di kalangan orang kaya saja. Dan Allah memberi kewenangan kepada Rasulullah saw. sebagai Amirul Mu’minin untuk mengatur dan mengelola distribusi harta agar tersebar merata, sehingga setiap individu bisa menggunakan harta itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan saat ini umat Islam membutuhkan pengatur dan pemutus pemerataan harta di antara umat, yaitu seorang khalifah. 

Khalifah akan mengatur kebutuhan rakyatnya dengan syariat Islam, bukan dengan sistem demokrasi seperti saat ini yang menyebabkan kesenjangan dan ketidak adilan bagi rakyatnya, khususnya para ibu. Sistem politik demokrasi meniscayakan kebebasan kepemilikan, dan sistem ekonomi kapitalis menjadikan para pemimpin negara menjual kekayaan milik rakyat kepada pengusaha, bahkan pengusaha asing dan kafir sekalipun. Akibatnya, rakyat hanya mendapatkan sedikit kekayaan, bahkan tidak mendapatkan apa-apa. Belum lagi negara yang memeras rakyatnya dengan memungut pajak dari rakyatnya sendiri. Kesempitan hidup begitu terasa. Jika sudah begini, siapa saja akan bekerja apa saja untuk bertahan hidup, termasuk para ibu. Para ibu terpaksa bekerja dan mengorbankan peran utamanya sebagai seorang ibu. Hukum kapitalisme ini telah mewajibkan perempuan bekerja. Perempuan telah beralih fungsi menjadi mesin ekonomi dan dibebani tanggung jawab untuk menyelamatkan kondisi ekonomi keluarga. 

Akibatnya, fungsi ibu sebagai ‘madrasah ula’ bagi putra-putrinya tidak berjalan. Belum lagi opini menyesatkan bahwa agar perempuan para ibu terpenuhi hak-haknya maka ia harus sejajar dengan laki-laki. Kesejajaran ini justru melegalkan tindakan abai laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki tidak harus menafkahi dan bertanggung jawab atas perempuan. Dampak lanjutannya, fungsi kepemimpinan suami terkikis. Rumah tangga menjadi tidak harmoni, bahkan tidak jarang berujung kepada perceraian. Anak-anak menjadi korban. Tidak sedikit anak-anak korban perceraian terjerumus ke dalam masalah narkoba, seks bebas, dll sebagai pelampiasan masalahnya.
Solusi atas semua permasalahan yang menimpa para ibu adalah dengan menerapkan sistem Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah. Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan sangat menghormati para ibu dengan tidak mewajibkannya mencari nafkah, sehingga ia bisa fokus menunaikan kewajiban utamanya mengurus keluarga dan mendidik anak-anak.Ia tidak perlu dibebani dengan peran ganda. Ia bisa menikmati kebahagiaan hidup sesuai dengan fitrah penciptaannya.

 Khalifah akan menjalankan sistem ekonomi yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup para ibu. Begitu pentingnya keberadaan khilafah yang akan menyelamatkan Indonesia dari keburukan sistem sekular buatan manusia, sudah sepantasnya setiap muslim tidak menolak khilafah, bahkan akan berlomba-lomba dalam usaha menegakkannya. Oleh karena itu, Kongres Ibu Nusantara (KIN) mengajak para ibu untuk memahami Islam dengan utuh dan menyeru untuk turut dalam perjuangan penegakan kembali khilafah sebagai solusi tuntas persoalan para ibu.
Sesi Talk show yang dipandu oleh Ustdzh. Novita (Anggota Lajnah Khusus Mubalighah Muslimah DPD I HTI Jawa Barat) selaku moderator dengan dua orang narasumber, yaitu Ibu Lilis, mantan buruh migran, dan Ustdzh. Siti Nafidah Anshory, S.P., M.Ag. (Ketua Muslimah DPD I HTI Jawa Barat). Ibu Lilis menceritakan pengalamannya selama 6 tahun sebagai TKW di Saudi Arabia yang dieksploitasi oleh majikannya. Sedangkan Ustdzh. Siti Nafidah menyampaikan bahwa ibu-ibu saat ini memiliki peran ganda. Selain sebagai ibu rumah tangga, mereka juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tidak jarang mereka menjadi buruh pabrik dan buruh migran (TKW) yang waktu kerjanya bisa sampai 24 jam.Kondisi ini menimbulkan masalah baru seperti perceraian, dekadensi moral anak-anak,dll. Ini semua disebabkan oleh diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini. Solusi untuk menyelesaikan masalah para ibu hanyalah dengan menerapkan sistem Islam yang nyata-nyata menyejahterakan para ibu di bawah naungan Daulah Khilafah Tsaqofah Islamiyah
Foto: #KIN | #KongresIbuNusantaraJawaBarat

Sesi Talk show yang dipandu oleh Ustdzh. Novita (Anggota Lajnah Khusus Mubalighah Muslimah DPD I HTI Jawa Barat) selaku moderator dengan dua orang narasumber, yaitu Ibu Lilis, mantan buruh migran, dan Ustdzh. Siti Nafidah Anshory, S.P., M.Ag. (Ketua Muslimah DPD I HTI Jawa Barat). Ibu Lilis menceritakan pengalamannya selama 6 tahun sebagai TKW di Saudi Arabia yang dieksploitasi oleh majikannya. Sedangkan Ustdzh. Siti Nafidah menyampaikan bahwa ibu-ibu saat ini memiliki peran ganda. Selain sebagai ibu rumah tangga, mereka juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Tidak jarang mereka menjadi buruh pabrik dan buruh migran (TKW) yang waktu kerjanya bisa sampai 24 jam.Kondisi ini menimbulkan masalah baru seperti perceraian, dekadensi moral anak-anak,dll. Ini semua disebabkan oleh diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini. Solusi untuk menyelesaikan masalah para ibu hanyalah dengan menerapkan sistem Islam yang nyata-nyata menyejahterakan para ibu di bawah naungan Daulah Khilafah Tsaqofah Islamiyah




Foto: #KIN | #KongresIbuNusantaraarat

Pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Ustdzh. Neneng (Anggota Muslimah DPD I HTI Jawa Barat)
Pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Ustdzh. Neneng (Anggota Muslimah DPD I HTI Jawa Barat)
Meskipun cuaca gerimis, para peserta tetap antusias mengikuti acara...
Foto: #KIN | #KongresIbuNusantaraJawaBarat

Meskipun cuaca gerimis, para peserta tetap antusias mengikuti acara...



Apakah Diterima Amalan Perempuan yang Tak Berjilbab Syar'i ?


dunia perempuan 300x194 Apakah Diterima Ibadah Seorang Perempuan yang Tidak Berjilbab?—SAUDARIKU yang dirahmati Allah Swt., berjilbab saat ini mulai digandrungi kaum hawa. Bisa jadi ada yang hanya ikut-ikutan trend atau juga yang memang memahami dan ingin melaksanakan perintah-Nya.
Berbagai jenis dan model jilbab saat ini banyak didapati, ada yang sesuai dengan syariat ada juga yang tidak. Bahkan terbilang syubhat jika dipakai, jilbab memang digunakan tapi tidak terhulur sampai ke dada serta bagian kaki malah tampak ketat dan terlihat.

Remaja Sukabumi Tolak Monster Pergaulan Bebas Dengan Khilafah Islamiyah


HTI Press. Sukabumi. Ahad, 1 Desember 2013 Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) MHTI SUKABUMI Mengadakan aksi bertemakan ‘Tolak Monster Pergaulan Bebas Dengan Khilafah Islamiyah’ lebih dari 50 remaja, mahasiswa dan umum mengikuti aksi yang digelar atas aksi protes terhadap KPAN bersama DKT Indonesia dan Kementrian kesehatan  yang menggelar Pekan Kondomisasi Nasional Pada tanggal 1-7 Desember. Para peserta dengan tertib mengadakan longmarch dari taman kota- Jl. Perintis Kemerdekaan – Jl. R.E Martadinata- Jl. Zaenal Jakse – Jl. Ahmad Yani- Taman Kota. []

Pekan Kondom Nasional & Legalisasi Seks Bebas Harus Ditindak

Kegelisahan Ibu Rahmi Rahmawati tak berlebihan. Ia menyikapi fenomena perilaku seks bebas yang harus ditindak bukan malah disuruh pake kondom!

Beberapa hari ini ia terusik dengan berita yang cukup mengerikan. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama produsen kondom sangat semangat mengadakan Pekan Kondom Nasional (PKN) akhir tahun ini.

Bagaimana Hukum Menjadi TKW?


tenaga-kerja-indonesia-tkiUstadzah, saya seorang mantan TKW. Karena kesulitan ekonomi keluarga -suami saya di PHK- setahun saya menjadi TKW di negeri orang. Saya terpaksa meninggalkan 3 orang anak juga suami dan keluarga. Hidup jauh dari keluarga ternyata membuat saya tersiksa dan merasa bersalah meninggalkan buah hati tercinta, apalagi di sana saya sering mendapatkan siksaan baik fisik maupun psikis. Karenanya setelah genap 1 tahun dan kontrak kerja sudah selesai saya bulatkan tekad untuk kembali pulang ke rumah. Apapun yang terjadi, hidup berkumpul dengan anak dan suami sungguh lebih baik dan membuat hati tenang. Namun, baru sebulan saya di rumah, suami dan keluarga besar terus mendorong saya untuk kembali bekerja di luar negeri. Masa depan keluarga dan kelangsungan pendidikan anak-anak menjadi alasan yang sering mereka ungkapkan, apalagi suami saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Terus terang saya kapok dan tidak mau lagi menjadi TKW, namun keluarga terus memaksa, bagaimana sikap saya yang tepat ustadzah?
Rmlh, di Cjr
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jabar Bersyariah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger