Kita ini kan, sebagai manusia, pasti selama kita hidup, kita memiliki kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan itu, contohnya seperti:
- Makan
- Minum
- Bobok
- Menikah
- Pergi ke suatu tempat
- Penasaran pingin tahu sesuatu (informasi/ilmu)
- Kudu bisa dan jago ngelakukan sesuatu (skill)
- Harus ngobrol sama saudara
- Kudu Sholat
- Kudu puasa Ramadhan
- Kudu ke Syurga
- Dan lain-lain
Sedangkan contoh keinginan itu:
- Pingin minum susu
- Pingin nonton film
- Pingin nulis buku
- Pingin download lagu baru
- Pingin beli mesin operasional
- Pingin beli bahan baku
- Dan lain-lain
Yah, itulah beberapa contoh kebutuhan dan keinginan diri kita sebagai manusia, yang setiap waktu muncul. Nah, ketika kebutuhan dan keinginan tersebut terpenuhi, jadinya bahagialah kita. Sekiranya tidak terpenuhi, itulah yang disebut dengan: masalah. Atau bisa juga disebut: kegalauan.
Perhatikan saja, setiap hari, apa yang kita lakukan dalam 24 jam, pasti dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan. Apapun itu, beraneka cara. Seperti misalnya orang kuliah, dalam rangka mempelajari suatu ilmu, agar punya penghasilan, agar membentuk karakter, dan lain-lain. Seperti misalnya orang kerja, dalam rangka menafkahi keluarga, memperluas jaringan, dan sebagainya.
Nah, terkait hal muamalah seperti itu, ketahuilah, bahwa ada 3 jenis tingkatan ikhtiar kita dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan tersebut. Yakni:
- Keinginan dan kebutuhan yang bisa dipenuhi secara mandiri.
- Keinginan dan kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi jika bersama-sama, dengan bantuan beberapa orang lain.
- Keinginan dan kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi jika diatur oleh negara.
(Meskipun memang tidak semua kasus selalu seperti itu, tapi dalam beberapa kasus normal, kerapnya begitu)
Berikut ini contoh-contohnya..
1. Tugas Diri Sendiri
![]() |
Toilet |
Atau, contoh lain, Anda pingin pergi sholat ke Mesjid. Jaraknya sekitar 20 meter lah. Nah, untuk sampai ke Mesjid, yah Anda tinggal jalan aja ndiri. Nggak mesti minta bantuan orang lain.
2. Tugas Bareng-Bareng
![]() |
Pangkas |
Atau, misalnya Anda ingin pangkas. Gimana caranya coba cara memangkas rambut sendiri? Tukang pangkas aja kalau mau pangkas pergi ke tugas pangkas lainnya. Hehehe!
Atau, contoh lain, Anda mau buat event apa gitu. Nggak bisa kan kalau cuma diurus diri sendiri? Masak yang ngurus konsumsi diri sendiri, yang nyari tempat diri sendiri, yang nyiapin logistik sendiri, yang desain brosur sendiri, yang marketing-in sendiri, yah teparlah? Harus bareng-bareng ngerjainnya.
Atau, contoh lain lagi, Anda mau ngurusin jenazah. Ribet kan kalau cuma sendirian ngurusnya? Masak sendirian mandiinnya, ngafaninnya, nyolatinnya, nguburinnya, do'ainnya, bahkan nangisnnya pun masak sendirian juga? Hehehe! Harus bareng-bareng dong. Kecuali, nangisnya itu yang terserah mau nangis mandiri atau nangis kolektif. :P
Bahkan, kalau mau kita lihat lebih detail lagi pada contoh tugas diri sendiri yang di atas, sebetulnya pun dalam contoh kasus di atas itu juga ada bantuan orang lain. Seperti misalnya Anda mau pipis ke kamar mandiri. Itu siapa yang buat kamar mandinya coba? Tukang kamar mandiri kan? Belum lagi arsiteknya, belum lagi penjual bahan bangunannya, dan sebagainya.
Jadi, sebetulnya, dalam suatu kejadian, dihasilkan dari tugas bareng-bareng..
3. Tugas Negara
Misalnya apa coba? Contoh sederhananya, kita pasti butuh air. Nggak mungkin kalau kita nggak minum-minum. Matilah nanti.
![]() |
Air Minum |
Pertanyaannya, gimana ceritanya tuh yah air-air yang di laut itu, bisa jadi Coca-cola di Minimarket gitu. Gimana coba ceritanya? Coba Anda ceritain yang detail. Mulai dari proses pengangkatan, sampai pengolahan, dan seterusnya, packaging, dan lainnya. Kira-kira, berapa orang yang terlibat dalam cerita itu?
Itu baru urusan air loh. Belum lagi:
- Urusan bahan bakar motor dan mobil Anda
- Urusan tanah
- Uusan listrik
- Urusan obat
- Urusan Sekolah
- Urusan buku
- Urusan Hutan
- Urusan pakaian
- Urusan duit
- Urusan perizinan
- Dan masih banyak lagi urusan-urusan lainnya
Yang urusan-urusan (tugas-tugas) ribet seperti itu, hanya bisa diselesaikan bila banyak manusia yang ikut mengerjakannya, dengan ikhtiar yang berkualitas pula tentunya.
Apa jadinya kalau cuma satu orang yang ngerjain? Mana bisa.
Kalau yang ngerjainnya beberapa orang aja, satu geng (kelompok/swasta) aja gitu, nggak usah pakai negara, gimana? Agak bahaya juga kalau gitu. Nanti yang ada mereka malah "makan sendiri". Atau, nanti mereka bisa licik, jadi mereka yang ambil banyak porsi, sedangkan kita (rakyat) cuma dapet sedikit.
Tidak bisa tidak, yang bisa mengatur urusan "ribet" (makro) seperti itu hanyalah negara. Yah, hanya bisa diatur oleh negara.
Defenisi Politik yang Sebenarnya
Nah, terkait pengurusan negara tersebut, yang guna memenuhi kebutuhan dan keinginan banyak orang, inilah yang disebut dengan politik.
Dalam Islam, politik bisa juga disebut dengan kata: siyaasah. Kata siyaasah itu berasal dari katasaasa - yasuusu - siyaasatan, yang berarti mengurusi kepentingan seseorang. Kalau yang dipaparkan dalam kamus Al-Muhiith, "Sustu ar-raiyata siyaasatan." Yang artinya, "Saya memerintah dan melarangnya dengan suatu autran." Berarti dari situ kelihatan, maksudnya itu adanya aktivias pengaturan urusan rakyat oleh suatu pemerintahan dalam bentuk perintah dan larangan.
Intinya, tujuan dari berpolitik dalam Islam adalah, ri'aayah syu'uun al-ummah. Mengurusi urusan umat.
Jadi, bagi Anda yang kemarin ngomong, "Pingin jadi orang yang bermanfaat bagi sesama.." yah inilah caranya. Yakni, berpolitik. Alias, membantu urusan banyak orang.
Berpolitik? Males Aaaah.. Maleeessss...
Barangkali Anda bakal berkata, "Ah, maleess.. Politik itu kotor.. Ntar kalau berpolitik, jadi ikut-ikut kotor..". Saran saya, silahkan baca terlebih dahulu artikel berikut ini:
- Benarkah Politik itu Haram dan Kotor Dalam Islam?
- Kenapa Calon Pemimpin yang Super-Duper Baik Pun PASTI 100% Tetep Nggak Akan Bisa Membawa Perbaikan Hakiki pada Negeri Ini*
- 3 Sebab Mengerikan Kenapa Pemilu (Demokrasi) itu Tak Ada Gunanya dan Tak Akan Pernah Membawa Perubahan Baik Apa-Apa
- [Infographic] Perbandingan 3 Ideologi: Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme
Makanya banyak orang-orang yang males ngurusin politik, karena mereka banyak yang salah paham terhadap politik. Mereka kira, politik itu = politik Demokrasi nan Kapitalisme. Padahal, belum tentu. Ibaratnya, HP itu kan ada yang Nokia, Samsung, dan Sony. Tapi, Nokia itu bukan cuma satu-satunya HP. Nah, politik itu, bisa diterapkan dengan Ideologi Islam, Kapitalisme, maupun Sosialisme.
![]() |
Smartphone HTC 8S |
Ibaratnya, kalau selama ini kita lihat HP orang itu Nokia semua, nggak pernah liat yang HTC, Sony, dan lainnya, maka dalam benak kita defenisi HP itu = Nokia. Jadi, kalimat "Pulsa HPku habis.." sama dengan "Pulsa Nokiaku habis.."
- Mirip seperti orang yang mau beli obat nyamuk, dia bilang Baygon. Padahal, Baygon itu nama merk. Bukan nama bendanya.
- Mirip seperti orang yang mau pakai highlighter, dia bilang Stabilo. Padahal, Stabilo itu nama merk. Bukan nama bendanya.
- Nah, begitu pula orang menganggap politik. Padahal yang kotor itu Kapitalisme-Demokrasi. Kapitalisme itu tata-cara berpolitik, sedangkan politik itu sebuah kegiatan. Ada juga politik yang bersih, yaitu politik Islam. Yang notabene sudah kurang-lebih 100 tahun tidak lagi diterapkan.
Apalagi kalau Anda buka ensiklopedi, dan lihat beraneka macam defenisi politik dari luar Islam, seperti Yunani, Belanda, Inggris. Nggak sedikit defenisinya banyak yang ngaco. Bukannya malah mengurusi kepentingan umat, tapi fokus nilai perbuatan dan nilai motivasinya untuk meraih kekuasaan.
Coba tebak, Anda perhatiin, apakah bedanya calon Presiden/Raja sekarang, dengan calon Khulafaur Rasyidin zaman dulu? Calon Presiden zaman sekarang, hobi ngomong, "Pilih aku! Pilih gue! Pilih saya!". Kalau calon Khalifah Abu Bakar, Umar, dan seterusnya, malah takut. Nolak-nolak mereka awalnya pas diminta jadi pemimpin. Karena mereka tahu, tugasnya untuk ngurusin umat bukan main-main. Kalau yang hobi ngomong "Pilih gue!", mungkin mau dapat duit kek, kekuasaan kek, dan sebagainya.
Coba tebak, Anda perhatiin, apakah bedanya calon Presiden/Raja sekarang, dengan calon Khulafaur Rasyidin zaman dulu? Calon Presiden zaman sekarang, hobi ngomong, "Pilih aku! Pilih gue! Pilih saya!". Kalau calon Khalifah Abu Bakar, Umar, dan seterusnya, malah takut. Nolak-nolak mereka awalnya pas diminta jadi pemimpin. Karena mereka tahu, tugasnya untuk ngurusin umat bukan main-main. Kalau yang hobi ngomong "Pilih gue!", mungkin mau dapat duit kek, kekuasaan kek, dan sebagainya.
Politik Negara dan Politik Umat << Anda Ini
Satu lagi kesalahpahaman yang banyak diemban orang-orang sekarang adalah, yang namanya aktivitas politik itu cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang masuk ke Parlemen. Padahal, nggak.
![]() |
Mengoreksi Penguasa |
Dengan kata lain, negara itu melakukan pengaturan urusan umat secara langsung dan praktis. Sedangkan umat mengawasi dan mengoreksi (muhaasabah) pemerintah dalam mengerjakan tugas-tugas mereka.
Apa Politisasi Anda?
Yah, sementara, ini saja dulu. Semoga uraian di atas bisa membuat Anda menjadi lebih paham tentang makna politik yang sebenarnya. Dan yang nggak kalah penting, semoga Anda jadi mau ikut berpolitik pula, supaya kebutuhan dan keinginan umat bisa terpenuhi secara total.
Palingan kalau Anda masih belum mau ikut berpolitik juga, ada 2 penyebabnya. Satu, Anda belum tahu betapa demikian luar biasa gawat! Rusaknya keadaan sekarang! Sehingga banyaaaaaaak kebutuhan umat yang belum terpenuhi! Kalau Anda udah tahu, udah paham, pasti Anda spontan nimbrung dalam dunia politik! Karena kita ini sekarang udah dalam kondisi darurat!
Atau alasan yang kedua, Anda udah tahu bahwa sekarang itu keadaan sedang kacau-balau. Kemudian Anda stres, dan bingung, ini gimana cara ngatasinnya, apa solusinya...
Nah, insya Allah, pada artikel berikutnya, saya akan coba bantu Anda agar jadi lebih melek akan masalah-masalah yang belum diketahui kebanyakan orang zaman sekarang. Dan, coba memberitahukan solusi-solusi tokcernya.
Post a Comment