Headlines News :
Home » » Bagaimana Hukum Menjadi TKW?

Bagaimana Hukum Menjadi TKW?

Written By jabar bersyariah on Saturday, November 16, 2013 | 5:58 AM


tenaga-kerja-indonesia-tkiUstadzah, saya seorang mantan TKW. Karena kesulitan ekonomi keluarga -suami saya di PHK- setahun saya menjadi TKW di negeri orang. Saya terpaksa meninggalkan 3 orang anak juga suami dan keluarga. Hidup jauh dari keluarga ternyata membuat saya tersiksa dan merasa bersalah meninggalkan buah hati tercinta, apalagi di sana saya sering mendapatkan siksaan baik fisik maupun psikis. Karenanya setelah genap 1 tahun dan kontrak kerja sudah selesai saya bulatkan tekad untuk kembali pulang ke rumah. Apapun yang terjadi, hidup berkumpul dengan anak dan suami sungguh lebih baik dan membuat hati tenang. Namun, baru sebulan saya di rumah, suami dan keluarga besar terus mendorong saya untuk kembali bekerja di luar negeri. Masa depan keluarga dan kelangsungan pendidikan anak-anak menjadi alasan yang sering mereka ungkapkan, apalagi suami saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Terus terang saya kapok dan tidak mau lagi menjadi TKW, namun keluarga terus memaksa, bagaimana sikap saya yang tepat ustadzah?
Rmlh, di Cjr


Ibu Rmlh yang dirahmati Allah,
Memang benar hidup di tengah keluarga pasti membuat kita tenang dan nyaman. Perasaan ini merupakan fitrah yang diciptakan Allah SWT pada semua manusia. Firman Allah dalam surat Ar Rum ayat 21 menyatakan bahwa manusia punya kecenderungan untuk hidup berpasangan (membentuk keluarga). Dan dalam keluarga inilah akan muncul rasa cinta, kasing sayang, dan ketenangan.
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, adalah Dia menciptakan dari diri kalian pasangan kalian agar kalian merasa tenang kepadanya. Dan menjadikan diantara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
Ibu Rmlh yang baik,
Menghadapi keluarga yang berbeda pendapat tentu akan membuat ibu bingung. Apalagi alasan yang dikemukakan seolah-olah benar demi jaminan masa depan anak-anak terutama pendidikan mereka. Hati siapa yang akan tega melihat buah hatinya terlantar dan putus sekolah? Tentu semua kita menginginkan kehidupan anak-anak kita berhasil dan sukses. Untuk semakin memantapkan keputusan ibu saya akan mengurainya sebagai berikut:
Pertama, dari tinjauan hukum menjadi TKW di luar negeri. Islam membolehkan seorang wanita bekerja. Ketika mengambil sesuatu yang boleh maka harus terikat dengan kaidah aulawiyat/skala prioritas. Artinya, memilih perkara yang boleh tidak bisa diutamakan dari pada mengerjakan yang hukumnya wajib, apalagi jika menyebabkan terlalaikannya perbuatan wajib tersebut. Dalam hal ini, bekerja adalah boleh bagi seorang wanita, sementara menjadi ibu, isteri, serta pengatur rumah tangga merupakan tugas pokok seorang wanita. Jadi, terkait TKW di luar negeri yang menjadi masalah bukan hukum bekerjanya karena hukumnya boleh. Tapi lebih karena pertimbangan akan adanya beberapa keharaman yang mungkin muncul, yaitu, 1) Masalah safar wanita. Seorang wanita tidak boleh bepergian sehari semalam tanpa disertai mahram. Yang dimaksud di sini adalah perjalanan safar yang menghabiskan waktu sehari semalam untuk maksud apapun, termasuk untuk bekerja. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW: “Tidak halal perempuan yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir melakukan perjalanan selama sehari semalam kecuali disertai mahramnya.” (HR Bukhari no 1088; Muslim no 1339; Abu Dawud no 1723; Tirmidzi no 1170; Ibnu Majah no 2899; Ahmad no 7366). Kebanyakan para TKW berangkat ke luar negeri tanpa disertai mahram, karenanya yang menjadi masalah adalah pelanggaran hukum safar. 2) Menjadi TKW juga akan menghantarkan pada kelalaian beberapa kewajiban, yaitu tugas sebagai isteri dan sebagai ibu yang berdampak pada munculnya permasalahan baru seperti suami selingkuh, anak menjadi terlantar bahkan ada yang broken home, dan berikutnya berujung pada hancurnya bangunan keluarga. 3) Ancaman keamanan dan kehormatan. Wanita yang hidup jauh dari mahram beresiko mendapat gangguan keamanan seperti cacian, hardikan, pelecehan seksual, penyiksaan bahkan pembunuhan sebagaimana yang kerap dialami oleh para TKW. Padahal keamanan, keselamatan, dan kehormatan adalah hak yang harus dijaga dan dipertahankan.
Kedua, Ibu harus yakin bahwa pilihan untuk berhenti menjadi TKW adalah keputusan yang tepat sekalipun berlawanan dengan keinginan suami dan orang tua. Terkait masalah ini ibu dalam posisi yang benar. Siapapun tidak punya hak untuk memaksa ibu melakukan pelanggaran hukum syara. Rasulullah SAW dalam sabdanya menegaskan ketentuan tersebut:
“Tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam maksiat terhadap Pencipta (Allah SWT)” (HR At-Tirmidzi)
Ketiga, Ibu harus betul-betul mengoptimalkan peran sebagai isteri dan ibu. Sebagai isteri yang akan mendampingi suami dalam kondisi apapun. Ibu bisa terus mengokohkan keyakinan suami bahwa Allah akan memberikan rizki pada orang yang bertakwa serta akan menunjukkan jalan keluar, sebagaima¬na firman Nya:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar. Dan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka. Dan barang siapa bertawa¬kal kepada Allah, maka Allah akan meme- nuhi kebutuhannya” (TQS.AtThalaq[65]:2-3),
Keterikatan ibu dan suami pada aturan Allah merupakan wujud ketakwaan yang akan menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah berupa dibukanya pintu rizki. Selain mengokohkan keyakinan suami, ibu juga bisa membantu suami mencari dan mencoba beberapa peluang usaha yang mungkin dilakukan dalam kondisi ibu sekarang. Salahsatunya menjadikan gaji ibu selama menjadi TKW sebagai modal usaha suami. Ibu Rmlh yang disayangi Allah, yang tidak kalah pentingnya adalah peran ibu sebagai pengurus dan pendidik anak. Kehadiran ibu di tengah-tengah mereka sungguh sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikisnya. Untuk mengoptimalkan peran ini, ibu harus terus menambah ilmu dan pengetahuan tentang pendidikan anak sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak yang sholih, sehat, dan cerdas.
Keempat, masalah ekonomi yang sedang dihadapi ibu dan keluarga, sebenarnya juga menimpa banyak keluarga lain di negeri ini bahkan di beberapa belahan dunia. Krisis ini bukan disebabkan oleh kemalasan individu atau kelemahan keluarga tapi lebih dikarenakan sistem yang melingkupi kita adalah sistem yang tidak mensejahterakan. Aturan kapitalis telah menyebabkan kekayaan negeri ini dikuasai oleh segelintir orang yang rakus. Akibatnya, limpahan sumber daya alam ini tidak bisa dinikmati bangsa sendiri. Mereka malah didorong untuk mengais rizki di negeri orang dan diiming-imingi sebagai pahlawan devisa. Jika sistem Islam yang diterapkan yaitu khilafah Islamiyah, maka ibu, keluarga, juga seluruh masyarakat tidak perlu khawatir dengan nasib pendidikan anak. Karena Negara akan menjaminnya, bahkan bukan hanya pendidikan. Kesehatan dan keamanan juga akan terpenuhi. Negara akan mengelola seluruh kekayaan alam untuk mensejahterakan rakyatnya. Negara akan membuka lapangan pekerjaan sehingga para suami akan memiliki peluang bekerja demi terpenuhinya kewajiban nafkah keluarga.
Semoga Allah SWT semakin menetapkan tekad ibu untuk berhenti menjadi TKW, membuka hati suami dan keluarga ibu untuk menerima kebenaran yang ibu sampaikan, dan semoga segera ada jalan keluar. Mudah-mudahan kasus yang menimpa banyak TKW termasuk yang ibu alami semakin meyakinkan kita semua bahwa harus segera menghancurkan sistem yang rusak ini dan menggantinya dengan sistem Islam yang mensejahterakan. Dan mudah-mudahan kita semua bisa optimal dalam menjalankan semua peran kita, baik sebagai isteri, sebagai ibu, juga sebagai pejuang tegaknya Khilafah Islam. Aamiin.
Oleh: Dedeh Wahidah Achmad
Editor: detikislam.com
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jabar Bersyariah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger