Headlines News :
Home » , » Raden Abdullah bin Nuh: Sosok Penting Dibalik Adanya Hizbut Tahrir di Indonesia

Raden Abdullah bin Nuh: Sosok Penting Dibalik Adanya Hizbut Tahrir di Indonesia

Written By jabar bersyariah on Tuesday, December 10, 2013 | 7:05 AM


KH  Raden Abdullah bin Nuh
(1905-1987)
Ulama Besar dari Cianjur
Siapa yang tidak kenal KH Raden Abdullah bin Nuh? Nama ulama yang besar karena kiprah dan karyanyaini tentu saja sangat familiar bagi dunia pesantren di Nusantra, terutama di Cianjur, Bogor dan Sukabumi. Lebih dari itu, ia pun gigih berjuang mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda.
Dan yang tidak kalah pentingnya, Mamakk—begitu ia biasa dipanggil—juga yang berperan membawa ulama Hizbut Tahrir saat itu Syeikh Abdurrahman Al Bagdhady ke Indonesia untuk mendakwahkan kewajiban bersatunya kaum Muslimin dalam naungan Khilafah Islam yang mengikuti metode kenabian.
Kiprah dan Karya
Sastrawan, penulis, pendidik, dan sekaligus pejuang ini lahir di Cianjur 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor pada 26 Oktober 1987. Sejak kecil, Mamakk memperoleh pendidikan agama Islam dari ayahanda KH Raden Nuh, seorang ulama terkenal di Kota Cianjur, Jawa Barat.
Di masa kanak-kanak, Mamak dibawa bermukim di Mekkah selama dua tahun. Di Tanah Suci ini ia tinggal bersama nenek dari Raden Nuh, bernama Nyi Raden Kalipah Respati, seorang janda kaya raya di Cianjur yang ingin wafat di Mekkah.


Sekembali dari Mekkah, Mamak belajar di Madrasah al-I’anah Cianjur yang didirikan oleh ayahandanya. Kemudian ia meneruskan pendidikan ke tingkat menengah di Madrasah Syamailul Huda di Pekalongan, Jawa Tengah.
Bakat dan kemampuannya dalam sastra Arab di pesantren ini begitu menonjol. Dalam usia 13 tahun, ia sudah mampu membuat tulisan dan syair dalam bahasa Arab. Oleh gurunya, artikel dan syair karya Abdullah dikirim ke majalah berbahasa Arab yang terbit di Surabaya.
Bahkan ketika masih remaja, ia juga sudah hafal kitab Nahwu Alfiah (nahwu/tata bahasa berbait seribu) di luarkepala dan aktif mempelajari sendiri bahasa Inggris.
Pada usia 17 tahun, Mamak aktif mengajar di Hadramaut School, sekaligus menjadi redaktur Hadramaut, majalah mingguan edisi bahasa Arab di Surabaya (1922-1926). Karena kemampuannya dalam berbahasa Arab, pada tahun 1926 ia dikirim belajar ke Fakultas Syariah Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, selama dua tahun. Sekembali dari Kairo, ia mengajar di Cianjur dan Bogor (1928-1943).
Ketika perjuangan kemerdekaan Indonesia memuncak, Mamak bukan hanya menyemangati masyarakat untuk melawan penjajah tetapi ia pun turut angkat senjata dalam pertempuran melawan Belanda. Ia menjadi anggota Pembela Tanah Air atau Peta (1943-1945) untuk wilayah Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
Sekitar tahun 1945-1946, ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tahun 1948-1950,  menjadi anggota Komite Nasional Pusat (KNIP) di Yogyakarta. Dalam waktu yang bersamaan ia juga sebagai kepala seksi siaran berbahasa Arab pada Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan dosen luar biasa pada Universitas Islam Indonesia (UII).
Lalu pada tahun 1950-1964 Abdullah bin Nuh memegang jabatan sebagai kepala siaran bahasa Arab pada RRI Jakarta. Kemudian dia menjabat Lektor Kepala Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1964-1967). Tahun 1969 dia mendirikan Majelis al-Ghazali dan Pesantren al-Ihya di Bogor. Di kedua tempat pendidikan ini ia berfungsi sebagai sesepuh.
Di Bogor, Mamak aktif melaksanakan kegiatan dakwah islamiyah dan mendidik kader-kader ulama. Ia juga menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan dan seminar-seminar tentang Islam di beberapa negara, antara lain di Arab Saudi, Yordania, India, Irak, Iran, Australia, Thailan, Singapura, dan Malaysia.
Mamak juga ikut serta dalam Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) sebagai anggota panitia dan juru penerang yang trampil dan dinamis. Keistimewaan Abdullah bin Nuh sebagai ulama adalah kemampuannya menciptakan syair Arab dalam berbagai bentuk dan tujuan, seperti syair pujian dan ratapan.
Syair-syairnya telah dihimpun dalam Diwan Ibn Nuh, berupa qasidah (118 qasidah) yang terdiri dari 2.731 bait. Semuanya digubah dalam bahasa Arab fusha (fasih) yang bernilai tinggi. Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Kamus Indonesia-Arab-Inggris yang disusun bersama Oemar Bakry.
Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab antara lain adalah al-Alam al-Islami (Dunia Islam), Fi Zilal al-Ka’bah al-Bait al-Haram (Di Bawah Lindungan Ka’bah), La Taifiyata fi al-Islam (Tidak Ada Kesukuan Dalam Islam), Ana Muslim Sunniyyun Syafi’iyyun (Saya Seorang Islam Sunni Pengikut Syafi’i), Mu’allimu al-‘Arabi (Guru Bahasa Arab), dan al-Lu’lu’ al-Mansur (Permata yang bertebaran).
Adapun karangannya yang ditulis dalam bahasa Indonesia, di antaranya adalah Islam dan Materialisme; Islam dan Komunisme; Pembahasan tentang Ketuhanan; Cinta dan Bahagia; Zakat Modern; Keutamaan Keluarga Rasulullah SAW;  Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan Banten.
Selain itu, Mamak juga menerjemahkan berbagai kitab berbahasa Arab ke bahasa Indonesia dan Sunda. Adapun karya terjemahan dari kitab Imam al-Ghazali adalah Minhaj al-Abidin (Jalan Bagi Ahli Ibadah), Al-Munqiz Min al-Dalal (Pembebas dari Kesesatan), dan al-Mustafa li ManLahu Ilm al-Ushul (Penjernihan bagi Orang yang Memiliki Pengetahuan Ushul).
Persaudaraan Islam
Ada satu amanah Mamak yang sudah menjadi kewajiban seluruh kaum Muslim untuk turut berupaya mewujudkannya, yakni bersatu-padunya kaum Muslim sedunia. Amanah itu ia tulis pada 1925, setahun setelah Khilafah Ustmaniyah runtuh. Dalam prosa yang berjudul Persaudaraan Islam (aslinya berbahasa Arab, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh istrinya, Mursyidah),  tampak jelas keinginan Mamak supaya kaum Muslimin di dunia ini bersatu padu menjadi suatu kekuatan yang dilandasi oleh rasa persaudaraan, tanpa membedakan suku, ras dan bahasa.

Di antaranya ia menyatakan: “Anda saudaraku, karena kita sama-sama menyembah Tuhan yang satu. Mengikuti Rasul yang satu. Menghadap kiblat yang satu. Dan terkadang kita berkumpul di sebuah padang luas, yaitu Padang Arafah. Kita sama-sama lahir dari hidayah Allah. Menyusun serta menyerap syariat Nabi Muhammad SAW. Kita sama-sama bernaung di bawah langit kemanusian yang sempurna. Dan sama-sama berpijak pada bumi kepahlawanan yang utama.”

Ia sangat merindukan kaum Muslimin di dunia ini bersatu padu dan tidak mudah diadu domba oleh mereka yang ingin menghancurkan akidah Islam. Tampaknya ia sangat resah dan merasa prihatin dengan terpecah-pecahnya umat Islam di dunia ini sehingga kaum yang memusuhinya dengan mudah mengadu domba. Bisa jadi karena itu pulalah, ia mendukung perjuangan yang diusung Hizbut Tahrir, yakni menyadarkan kaum Muslim agar kembali bersatu dalam naungan Khilafah Islam.
Kepada kontributor Media Umat di Cianjur Raden Mumuh Muhammad Musa bin Nasikin bin Kosim [kakaknya Mamak Abdullah] bin Nuh, putra bungsu Mamak KH Raden Toto Mustofa menyatakan Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an.
Menurutnya, Hizbut Tahrir dibawa ke Indonesia oleh salah seorang tokohnya di Tripoli Libanon yang telah bermigrasi ke Australia, namanya Syeikh Abdurrahman Al Baghdady. Mamak bertemu dengannya di Australia untuk keperluan mengunjungi Raden Hamid, putra Mamak yang bermukim di sana.
Pertemuan tersebut berlanjut dengan dibawanya Al Baghdady ke Indonesia, tepatnya ke pesantren Mamak di kota Bogor, yakni Pesantren Al Ghazali. Ulama asal Baghdad ini kemudian menetap di Bogor dan berkeluarga.
“Mamak-lah yang menghadirkan beliau ke negeri ini, yakni ke pesantren beliau di kota Bogor. Mamak juga memberinya peluang untuk merintis dakwah Hizbut Tahrir terutama kepada sekumpulan mahasiswa,” ungkap Mumuh menirukan ucapan Toto.
Tanpa  Mamak, sulit dibayangkan bagaimana kelompok dakwah ini dan idenya bisa eksis dan tersebar di negeri ini terutama dalam situasi politik yang saat itu terasa menekan. Padahal, biasanya orang merasa takut untuk bersinggungan dengan organisasi-organisasi dan para aktivisnya yang dianggap ekstrim dan bertentangan dengan sikap penguasa yang otoriter.
“Ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman beliau tentang Islam dan konstelasi politik lokal serta dunia sangat mendalam dan luas. Bayangkan saja, ide khilafah sebagaimana yang diusung HT, serta kaitannya dengan penegakan syariah, saat itu  masih sangat asing dan dipandang absurd, bahkan di kebanyakan para tokoh ulama sekalipun. Saat ini saja, belum tentu semua memahaminya,” ungkap Mumuh yang juga bisa dibilang sebagai cucu Mamak.[] joko prasetyo
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Jabar Bersyariah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger